Thursday, April 12, 2018

Perpanjang SIM A tapi beda Provinsi

Batu Kajang, 12 April 2018

Hallo!
Hari ini saya mau sharing pengalaman perpanjangan SIM A Polisi tapi beda provinsi.

So, sebelum menikah KTP-el saya adalah penduduk Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur dan saya mendapatkan SIM A juga berdasarkan KTP-el tersebut.

Setelah menikah, saya pindah kependudukan menjadi warga Kota Depok, Provinsi Jawa Barat (ganti KTP-el juga). Nah, karena KTP sudah sistem elektronik, sehingga NIK (Nomor Induk Kependudukan) saya tetap sama seperti KTP-el Balikpapan meskipun pindah ke Depok.

Singkat cerita kemarin saya perpanjang SIM A saya di Balikpapan, awalnya agak ragu kira-kira bisa gak ya perpanjang di Balikpapan aja (karena walaupun KTP Depok tapi saya dan suami masih bekerja di Batu Kajang, Kalimantan Timur). dan ternyata BISA! juga GAK PAKE RIBET!

Saya cuma perlu membawa :
1. Asli Surat Keterangan Sehat (Bisa dari Puskesmas/Klinik/Rumah Sakit mana saja)
2. Fotocopy KTP-el (saya pakai surat keterangan karena KTP-el belum jadi)
3. Asli SIM A yang akan diperpanjang
4. Biaya Rp 10.000 untuk Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas
5. Biaya Rp 80.000 untuk biaya perpanjangan SIM A, Rp 75.000 untuk biaya perpanjangan SIM C

Prosesnya :
Setelah mendapatkan surat keterangan sehat dari puskesmas dekat rumah, saya langsung menuju SIM Keliling di daerah BPJS Ketenagakerjaan Balikpapan. Waktu itu saya datang jam 11.00 siang karena antri lamaaa banget di Puskesmas. Sampai di SIM Keliling saya tanya ke Bapak Polisinya apakah masih bisa perpanjangan, kata Pak Polisi langsung aja ke Polres mbak, karena jaringan sistem lagi putus dan orang-orang yang daritadi antri buat perpanjang SIM belum ada satupun yang mendapatkan SIM mereka karena jaringan putus.

Akhirnya saya naik angkot ke Polres Balikpapan didaerah Klandasan. Disana saya langsung ke bagian SIM dan sudah mengantri banyak orang untuk membuat SIM baru maupun perpanjangan.

Saya langsung ke bagian pendaftaran dan diminta mengumpulkan copy KTP-el/surat keterangan & asli surat keterengan sehat. Setelah itu saya duduk dan tidak sampai 10 menit nama saya dipanggil kembali dan disuruh membayar biaya perpanjangan sebesar Rp 80.000. Kemudian disuruh duduk lagi, dan tidak sampai 15 menit nama saya dipanggil lagi dan diberikan formulir dan diminta melampirkan SIM A lama beserta dokumen yg saya kasih sebelumnya dipendaftaran dan disuruh mengisi formulir tersebut. Setelah formulir saya isi, saya kembalikan ke bagian perpanjangan. Setelah itu nama saya dipanggil lagi dan berikan map berisi formulir yg sudah terisi dan dokumen-dokumen pendukung. Saya diminta ke bagian POKJA 2 untuk mengantar map tersebut dan disana mengambil nomor antrian untuk foto. Kemudian nomor antrian saya dipanggil dan saya antri menunggu giliran difoto. Waktu itu saya datang dengan baju tidak berkerah, jadi sama Ibu Polisi disuruh pakai baju berkerah yang ada disediakan disana. Setelah foto dan rekam sidik jari saya disuruh menunggu diluar untuk mengambil SIM A yang sudah jadi. Sekitar 30 menit menunggu nama saya dipanggil dan SIM A saya sudah jadi deh!

Mudahkan?

Jadi karena semua sudah online, perpanjang SIM kini bisa dimana saja, yang penting KTP sudah elektronik.
Selamat mencoba!

Thursday, February 8, 2018

Jalan - Jalan Ke Bandung dengan Bayi Ben & Balita Jo

Ah..lama banget gak nulis

Lagi bahagia banget sibuk dengan 2 anak
Iya, bulan Mei 2017 saya melahirkan anak ke-2 kami. Laki-laki.
Udah komplit sepasang sih cewe & cowo. Cuma kayaknya pengen nambah, tapi nambahnya ntar aja pas kepengen punya bayi (kalau Tuhan kasih rejeki juga :))

Nah, bulan  Januari 2018 lalu, saya & suami pulang cuti ke Jakarta
kebetulan anak-anak udah duluan di Jakarta
Si adek udah 3 bulan di Jakarta gara-gara nanny yang tadinya kerja sama saya, saya berhentiin karena punya tensi/darah tinggi. Iya, karena akibatnya jadi ga sabaran sama anak, dan saya baru tau itu setelah 3 bulan dia kerja sama saya.

Terus si kakak, pertengahan Desember 2017 udah dijemput Tetenya ke Jakarta karena liburan sekolah.

Jadi kita datang ke Jakarta pas pertengahan Januari 2018 terus melipir bentar (3 hari) ke Bandung.

Di Bandung kita pilih hotel Novotel, pas waktu itu pesen lewat Traveloka ratenya sekitar 738ribu-an per malam.
Kita pilih Novotel karena kamar mandinya pakai bathup walaupun tipe kamar cuma Superior. Soalnya bawa bayi yang mandinya harus berendem air hangat.
Selain itu Novotel udah pastilah makanannya enak :)

Hari pertama, kita berangkat dari Jakarta jam 09.00 pagi. Perjalanan ga terlalu padat, karena kita pergi di weekday. Cuma macet di beberapa daerah itupun karena memang lagi ada pekerjaan proyek infrastruktur jalan. Kita juga jalannya santai banget, gak pake ngebut soalnya bawa anak-anak, apalagi si kakak ya ampuuun repot banget deh pindah duduk kedepan, kebelakang (ya iya sih balita umur 3 tahun mah pasti bosen kalau lama diem di mobil :)) Trus kita juga sempetin mampir makan siang dulu di rest area, karena Kakak Jo & Baby Ben harus makan siang juga. Bayi Ben kalau telat makan & minum susu bisa ngamuk-ngamuk soalnya :))

Sampai di hotel jam 13.30an, terus masuk-masukin barang, tidur-tiduran bentar sambil mikir2 mau kemana hari ini. Daaaan kebablasan santai, sampe akhirnya si kakak & adek ketiduran. Akhirnya baru pada bangun jam 5 dan papinya juga mager alias males gerak! Tapi si kakak pengen banget main dan bosen di kamar. Alhasil bapaknya ngajak si kakak berenang di hotel ajah :))

Setelah 30 menit, mereka balik ke kamar dan bilang klo diluar anginnya kenceng banget, papinya takut si kakak masuk angin.

Yaudah deh, kakak & papi mandi, mami jaga adek. Habis kakak selesai mandi mami masukin adek ke bathup gantian ama kakaknya. Papi mandiin adek, mami pakein kakak baju. Kerjasama tim yang HEBAT! Horeee

Oia, di Novotel ini kamar mandinya emang licin. Ya dimana-mana klo keramik kena air mah licin. Maksudnya klo mau minta karpet karet (ukuran keset) bisa kok, buat mengurangi resiko licin didalam bathup/dilantai kamar mandinya.

Kita pilih King Bed dikamar, masih bisa sih ber-4 tidur didalam 1 king bed itu.

Besok pagi, berhubung punya bayi jadilah kami bangun subuh! Iya, kami semua bangun jam 5 pagi karena adek nangis sejadi-jadinya minta susu..hahahahah

Gpp deh, itung-itung biar bisa siap-siap lebih cepat buat berangkat jalan-jalan.

Setelah mandi & sarapan kita meluncur ke KAMPUNG GAJAH
Ngajakin kakak berenang disana. Dingin sekaliiiiiiiii. Si kakak sampe menggigil tapi tetep semangat mainan airnya. Mami & Ben cuma nungguin aja di bangku ngeliatin papi & kakak main air.

Setelah puas main air & foto-foto di Kampung Gajah, kami meluncur ke Farm ouse Lembang. Liat domba, beli sosis, liat orang2 pakai baju Belanda, foto-foto yang bisa dicetak digelas, dll. 

Tapi si kakak sama adek malah ketiduran.
Untung bawa stroler buat kakak tidur dan gendongan hipseat buat adek tidur sambil mami & papi tetep bisa jalan-jalan muterin farmhouse :))

Selama 2 malam di Bandung kita selalu pesen makan malam lewat Go-Food, lebih enak soalnya. Kasian klo bawa bayi keluar malem-malem cuma buat makan.

Emang sih liburannya jadi ga banyak, karena sore menjelang malam saya & suami sepakat pulang ke hotel supaya anak-anak gak kemaleman diluar hotel. Takut masuk angin & jadi sakit. Kasian. Lagian pas bulan Januari itu Bandung & Jakarta juga lagi musim Hujan, jadi makin ga tega klo ngajak anak-anak keluar malem-malem.

Besoknya kami udah siap-siap check out dari hotel.
Sehabis sarapan & leha-leha sebentar lalu kami langsung cuss balik ke Jakarta deh..

Thursday, October 13, 2016

Pengalaman Pertama ambil KPR Griya di BNI

Holla..lama banget gak coret-coret di blog.
Hari ini aku mau bagi info soal proses pembelian rumah melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah) di Bank BNI.

Aku bekerja di Batu Kajang, Kalimantan Timur. Aku dan suami setelah hampir 3 tahun menikah sampai juga pada rencana untuk membeli rumah setelah beberapa hutang telah dilunasi dengan lunas nas nas.

Akhir dari sekian lama pencarian, tibalah kami pada satu lokasi yang cukup dekat dengan rumah orangtua saya dan cukup dekat ke pusat kota. Saya bilang lokasi karena dilokasi tersebut rumahnya belum dibangun. Si pemilik tanah memiliki beberapa meter tanah yg cukup luas, lalu si pemilik berencana membangunkan 4 buah rumah pada tanah tersebut dan dijual ke orang lain. Jadi lokasi ini bukan lokasi perumahan/komplek tapi perkampungan biasa dan sudah cukup ramai warga disekitar.

Dua buah rumah paling ujung kanan dan paling ujung kiri telah dibangundan telah dibeli orang juga sudah ditempati oleh mereka. Satu rumah ditengah masih dalam tahap proses pembangunan dan satu pondasi rumah tengah lainnya lagi sudah dibuat namun belum dalam proses pembangunan.

Nah, kami melihat-lihat kedalam rumah ketiga yg sedang dibangun. Jadi luas tanahnya 128 m2 dengan panjang kebelakang 20m dan lebar 6.4m. Kamipun tertarik untuk mengambil rumah keempat yang hanya ada pondasinya saja. Setelah panjang lebar berbicara dengan agen penjual mengenai harga dan tambahan-tambahan apa saja yang kami peroleh pada saat pembelian rumah akhirnya kami sepakat untuk melakukan pembelian rumah tersebut dengan cara kredit melalui bank dan saya serta suami memilih KPR Griya BNI karena payroll gaji kami di BNI.

Setelah menghubungi marketing KPR BNI di Balikpapan kami memberikan kontak marketing tersebut ke agen penjual juga memberikan kontak agen penjual ke marketing KPR BNI agar jika ada dokumen-dokumen dari si penjual seperti sertifikat rumah, ktp penjual, bukti kwitansi DP atau dokumen lainnya si marketing bisa langsung menghubungi agen penjual. Agen penjual ini fungsinya adalah membantu si penjual asli untuk komunikasi dengan pembeli atau marketing bank. Biasanya penjual asli yg memakai agen adalah orang dengan kesibukan tinggi atau malas meladeni permintaan pertemuan atau permintaan dokumen dari pembeli atau bank, jadi diberdayakanlah agen.

Setelah 3 bulan lebih pembangunan rumah, pihak bank bersama pihak appraisal independen datang ke rumah untuk melakukan appraisal atau "mengira-ngira" harga yang pantas untuk rumah kalo dijual. Setelah appraisal selesai pihak bank memulai penghitungan kemampuan keuangan calon debitur (yang mau kredit KPR) dan setelah itu diinformasikan ke calon debitur besarnya jumlah kredit yg dapat dicairkan oleh bank sesuai kemampuan keuangan calon debitur dan penghitungan hasil appraisal dikira-kira berapa yg bisa dicairkan.

Setelah itu pihak bank berkomunikasi dengan si penjual mengenai sertifikat rumah yang nantinya akan dijadikan jaminan oleh si pembeli (debitur). Setelah semua sudah diyakinkan dan debitur setuju dengan jumlah yang dicairkan bank, debitur atau saya menghubungi notaris. Notaris yang dipakai waktu itu yang sudah rekanan dengan penjual. Yah kalo mau lebih bagus sih baiknya notarisnya pilihan si pembeli, cuma berhubung saya dan suami bekerja jauh sekali dari kota akhirnya kami ikut saja dengan notaris pilihan penjual.

Setelah dihitung-hitung beberapa point yang harus dibayar pembeli/saya sebagai berikut :
NJOP = Rp 300.000.000 - Rp 60.000.000 (yang tidak dikenakan pajak, nilai ini berbeda ditiap lokasi kabupaten/kota.provinsi) = Rp 240.000.000
1. Pajak Pembeli = 5% x Rp 240.000.000 = Rp 12.000.000
2. Akta Jual Beli = 8.000.000 : 2 (penjual dan pembeli) = Rp 4.000.000 (masih bisa nego ke notaris)
3. Biaya Balik Nama = Rp 6.500.000 (masih bisa nego juga)
4. PNBP = Rp 300.000
5. Hak Tanggungan = Rp 6.000.000 (yg memberikan hak ke bank untuk memiliki sertifikat selama masa kredit berlangsung) Kalo belinya cash biaya ini gak akan ada.
6. Cek peta = Rp 500.000
Jadi total yang dibayarkan ke Notaris = Rp 29.300.000 tunai didepan sebelum akad kredit ke bank!

Setelah biaya notaris sudah dibayarkan besoknya langsung akad dengan BANK. Dan biaya-biaya yang harus disiapkan suami saya dalam rekeningnya sbb :
1. Cicilan pertama Rp 4.700.000 (sekitaran, saya lupa angka bulat dibelakangnya)
2. Asuransi jiwa Rp 971.000 (sekitaran, saya lupa angka bulat dibelakangnya)
3. Asuransi kerugian Rp 5.071.000 (sekitaran, saya lupa angka bulat dibelakangnya)
4. Biaya provisi 1% dari dana yang dicairkan Rp 4.700.000 (sekitaran, saya lupa angka bulat dibelakangnya)
Jadi total yang disiapkan direkening Rp 15.442.000 (sekitaran, saya lupa angka bulat dibelakangnya)

So, kalo mau beli rumah dengan KPR harus siap dana tunai buat biaya-biaya sekitar 10% dari harga rumah yaa.

Sekian tulisan saya tentang pengalaman beli rumah dengan KPR. Soalnya ini pengalaman pertama, dan cari=cari di google belum ada yang share soal biaya-biaya seperti ini. jadi saya berharap tulisan saya ini bermanfaat buat temen-temen yang mau beli rumah dengan KPR dan pengalaman pertama.

Kalau mau lebih murah sih beli rumah dengan tunai, tapi untuk rumah tangga baru uang tunai sebesar itu pasti susah dapatnya..hehehe. Semangat yaa!!

Monday, September 28, 2015

Taking out the "IUD" a.k.a "KB Spiral"

Mencabut KB IUD..

Jadi, setelah melahirkan anak pertama, saat masih masa nifas hari ke 37 aku datang periksa ke dokter kandungan di RS. Pertamina Balikpapan dengan dr. Stella, SpOG yang adalah dokter kandungan aku dari masa hamil buat make sure that i am ok and do not need any medical treatment.
Karena aku dan bayiku akan moving to the uptown Desa Batu Kajang, berkumpul bersama suami :). Coz to reach the hospital will be need 4 hours land travel and 15 minute with speed boat. Exhausted banget ya! hahaha..

Dan saat itulah dokter bertanya mau KB atau engga. Aku jawab mau sih dok, tapi nyari yg aman buat ibu menyusui dok. Akhirnya rekomendasi dokter adalah IUD karena aman buat ibu yg masih menyusui.

Ah..saat pemasangan bener-bener scary banget deh. Untungnya dokter Stella dan bidan yang saat itu temenin aku saat pemasangan IUD orangnya friendly dan yang penting "BERPENGALAMAN". Jadi ada dua bidan yang bantuin dokter Stella masang IUD ke aku. Bidan-bidan itu nanyain soal perkembangan baby Jo ke aku, saat-saat sulit waktu merawat bayi, baby Jo nya rewel atau gak, pokoknya ngajak ngobrol gitu deh, sambil dokter Stella melakukan pekerjaannya dibawah sana (hahaha) and.. tadaaaa dokter Stella bilang "OK sudah selesai bu". What?? Udah selesai dok?? Kok gak berasa apa-apa ya dok? hahaha.

Yup, mungkin pemsangan IUD waktu itu makan waktu sekitar 3 - 5 menit aja deh.

Nah, singkat cerita IUD tidak terlalu cocok sama aku. Tiap ibu pasti punya reaksi yang berbeda terhadap KB yang digunakannya. Jadi jangan generalisasi reaksi aku terhadap IUD ya. IUD bikin aku sering buang air kecil. Minum sedikit langsung rasa have to pee! Sampai sangking malesnya bangun tidur (bayangin aja ya klo lagi bobo nyenyaaaak banget, trus kebangun dikit karena harus pipis dan ini berulang 2-3 kali semalem gimana coba perasaan aku? males banget kan harus berdiri dan bangun buat ke kamar mandi. Please! tidur aku masih enak banget!!!) terjadilah radang infeksi saluran kemih..ooohh!
Tapi inget ya mom, TIAP IBU BEDA-BEDA REAKSINYA TERHADAP KB.
Cuma memang IUD paling aman buat busui, supaya gak ganggu hormon & komposisi ASI sih.
Jadi 2 minggu lalu aku lepas IUD ke dokter Stella di RS. Siloam Balikpapan.

Waktu mau cabut IUD juga masih scary, ah padahal kan pas pasang aman aja. Tapi tetep aja takut! Hahaha..
Waktu itu dr. Stella pernah bilang kalo mau cabut pas lagi haid ya.
Nah, hari ini aku datang pas hari ke-3 haid.
Benerkan ga sakit pas nyabut! Emang dasar penakut aja sih..hahaha
Malahan proses pencabutan IUDnya lebih cepat dari saat pasang.
Ga sakit kok. Yang penting rileks, ngobrol sama suami saat dicabut. Udah deh selesai.

Mau kasih tips nih ke mommies kalau mau cabut IUD :
1. Pastikan saat haid di hari yang bikin mommy biasanya sakit pinggang/perut.
Kenapa? pertama karena mulut rahim saat itu sedang terbuka, jadi saat dokter memasukkan alat pencabut IUD lebih mudah dan gesekan yang terjadi tidak terlalu sakit. Kedua buat "mengaburkan" rasa sakit sih saat dicabut sih. Yang ini dari pengalaman pribadi, soalnya saya sendiri sempet bingung ini sakit pinggang dan perut krn haid hari ketiga sakitnya banget-banget sampe menutupi rasa sakit waktu cabut IUD
2. Saat di meja tindakan mommy harus relax.
Ajak suami/mama (partner) buat nemenin sampai ke ruang tindakan. Gunanya buat mengalihkan fokus mommy dari dokter yang sedang melakukan pencabutan IUD ke hal lain yang bisa dijadikan bahan ngobrol oleh partner (misalnya ngomongin soal anak, atau rencana liburan ke Bali..hahaha)
3. Pilih yang berpengalaman.
Kalo ada iklan "Buat anak kok coba-coba" nah soal pasang-cabut IUD juga jangan coba-coba ya mom. Ini berhubungan sama rahim dan mulut rahim, tempat berkembangnya calon buah hati kita dan tempat keluarnya si calon buah hati. Yakin deh, orang yg profesional dan berpengalaman kerjanya lebih cepat, efektif, dan yang pasti gak sakit. Dari jumlah pasien yang mengantri di klinik seorang dokter kita udah tau gimana pengalamannya kan mom.

Segitu mom, pengalaman memasang & mencabut IUD dari aku. Semoga berguna ya mom. Amin.


Tuesday, August 25, 2015

Liburan bersama Bayi Jo ke Bandung

Setelah 2 bulan gak ketemu baby Jo yang "dititipkan" ke mertua saya di Jakarta, akhirnya saya dan suami ambil cuti 5 hari buat mesra-mesraan bertiga. hahaha.

Saya dan suami memilih Bandung buat berlibur. Bandung dipilih karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh sehingga baby Jo gak terlalu capek, trus udara di Bandung yang segar dan sejuk menjadi alasan kami memilih Bandung.

Beberapa hari sebelum berangkat saya sudah memesan penginapan yang akan kami gunakan selama di Bandung di www.booking.com. Kami merencanakan menginap selama 3 hari 2 malam di Bandung. Dan dari hasil pencarian, saya menemukan penginapan sesuai dengan keinginan saya. RUMAH ACA berhasil menjadi juara pilihan penginapan saya! Mengapa RUMAH ACA simak terus ya tulisan saya ini (?? hahahaha)

Saya dan suami memilih berangkat ke Bandung di hari Selasa - Kamis, yup dihari kerja buat menghindari kemacetan. Males ketemu macet saat membawa baby Jo, kasian dia pasti bosen kalau kelamaan dimobil yang gak bergerak.

Oke persiapan berangkat ke Bandung, mobil diisi bensin full tank, pasang baby car seat supaya nyaman untuk baby Jo tidur selama 3 jam perjalanan. Bwa stroller, bawa baby carrier yang model kangguru, bawa termos mini buat air panas bikin susu baby Jo, dan yang paling penting bawa MPASI yang udah dimasak dari rumah tadi pagi. Jadi pagi tadi baby Jo udah sarapan oatmeal + keju + susu trus sejam kemudian dia minum susu supaya saat dimobil baby Jo tinggal bobo deh karena udah kenyang. Aman!


Baby Jo on her way to Bandung..yihaaaa!

Persiapan buat MPASI baby Jo di Bandung, aku bawa beras, wortel, tomat, daun sop, ikan salmon beku (masukkin ke cooler bag kalo ada), keju ARLA (kids cheese) dan oatmeal yang ga instan (quacker oatmeal warna biru), trus susu. Peralatan yang dibawa: panci kukus, mangkok buat kukus, mangkok makan baby Jo, sendok & gelas baby Jo, botol susu, saringan buat halusin sayur, ikan, dan keju, trus sendok nasi yang biasanya ada di rice cooker itu lho gunanya buat bantu menekan dan menggerus sayuran, ikan, dan keju di saringan karena permukaannya yg besar/luas sehingga menghaluskan makanan jadi lebih cepat.

Sebelum berangkat, saya sudah mengukus makan siang baby Jo dari rumah mertua. Saya kukus beras, buncis, wortel, tomat, dan daun sop untuk makan siang baby Jo hari ini. Untuk persiapan siapa tau macet dan berhenti di jalan, makanan baby Jo sudah saya gerus dari rumah dan dimasukkan ke wadah kedap udara (klip n klip atau tupperware yang tutupannya kuenceng rapet). Jadi ketika jam makan siang baby Jo dijalan ga repot buat gerus di jalan.

Sampailah kami di penginapan kami yakni RUMAH ACA. Kami memilih tipe kamar Studio Double. Tau yang membuat saya menjatuhkan pilihan ke RUMAH ACA ini dia! 


Fasilitas dapur didalam kamar studio double RUMAH ACA



Yuhuuu..didalam kamar terdapat fasilitas kulkas, wastafel, kompor, dan microwave. Ahh..ini sih gampang buat MPASI Jo yang gak boleh instan! Dari awal memang saya cari penginapan yang menyediakan kompor didalam kamar untuk membuat MPASI baby Jo yang fresh from the stove! Yipppiiiee..

Dan fasilitas lain yang membuat saya memilih RUMAH ACA karena didalam kamar mandi terdapat 1 bath tub dan 2 shower. Kamar mandinya juga gak sempit kayak kebanyakan hotel, jadi gampang deh buat mandiin baby Jo. Tinggal ceburin aja ke bath tub sekalian ceburin bapaknya juga sih buat megang baby-nya yang aktif banget geraknya! Fiuuuuhh..

Waktu itu saya dapat rate Rp 640K/night. Worth it lah dengan fasilitas dalam kamarnya yang cihuy banget buat emak-emak dengan baby yang masih makan MPASI non-instan. Teteup ya bangga ama MPASI non instan..hehe.

Sorenya kami berencana pergi melihat-lihat kota Bandung, sebelum berangkat si emak masak dulu makan malam baby Jo. Cemplungin beras, wortel, tomat, daun sop, ikan salmon. Tunggu sejam..tadaaaaa jadi deh. Setelah masak dan tekstur sudah lembek lalu gerus sayuran, ikan dan keju masukkan ke wadah kedap udara dan kami pun siap menyusuri kota Bandung!

Pagi hari baby Jo bangun dan langsung saya sambut dengan oatmeal hangat + keju + susu yang enak. Nom..nom..nom.. setelah selesai makan baby Jo kami jemur didalam kamar. Nah yang bikin saya seneng adalah matahari masuk ke dalam kamar kami, jadi kami bisa menjemur baby Jo tiap pagi. Senangnyaaa. Percaya deh kalo baby Jo selalu bawa rejeki dimana aja buat dia dan kami.

Sejam setelah berjemur, baby Jo minum susu. Trus tidur deh pules ampe jam 12 siang. Setelah bangun, makan siang baby Jo emak kasih lunch enak wortel, tomat, salmon lezat plus keju. Setelah selesai makan baby Jo mandi diceburin ke bath tub bersama emaknya..hahaha

Siang itu kami berencana ke Lembang menikmanti restoran ditengah sawah. Bawa stroler baby Jo dan MPASI yang udah disiapin emak buat makan malam baby Jo kalau-kalau telat balik ke guesthouse. Dan seperti biasanya baby Jo gak bisa diam ngeliat gelas dan piring juga bakul nasi yang baru buat dia. Langsung deh bergerak baby Jo, dan akhirnya untuk menghindari perpecahan peralatan makan, emak dan papa gantian makannya..hahaha.


Baby Jo on stroller

Lanjut besok pagi check out and belanjaaaaaaa! Mampir ke FO disekitar penginapan aja sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Yuhuuu..baby Jo adem aja di stroler, kadang nangis merengek minta digendong, ya udah emak dan papa gantian gendong pas fitting baju.

That's the end of our journey in Bandung. See ya on her next trip story..



Friday, April 24, 2015

I am a mom!

I am a mom!


Udah lama ga posting cerita, dan tiba-tiba saya sudah menjadi seorang Ibu!

Yes! I'm a wife and a mom! thank GOD!


Jadi sekarang ceritanya seputar being a wife and being a momma ya.



Bayi perempuan aku sekarang berumur 6 bulan, lagi lucu-lucunya dan sedang aktif sekali.

Sebelumnya aku mau cerita, sekitar 3 bulan yang lalu anak aku diberi obat pengencer dahak dan harus melakukan nebulasi/penguapan yg diindikasikan dokter anak di salah satu RS bahwa anak aku terlalu banyak lendir di saluran pernapasan atasnya.

Sekedar info buat para mommy, kalau ada mommy yg baby-nya tidur trus ada bunyi grok-grok saat bayi tidur, menurut dokter 'faktanya ada 3 penyebab grok-grok pada bayi' :


1. ASAP ROKOK

Penyebab pertama dan utama bayi grok-grok adalah ASAP ROKOK. Kalau bapak atau ibunya ga ngerokok, please make sure that your baby is really far away from the smoker. bahkan saat si perokok sudah menyelesaikan merokoknya pastikan bahwa si perokok sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru bukan dengan pakaian yg dipakai saat dia merokok, sebelum mendekati bayi anda. Karena apa? Karena rokok itu seperti 'kentut' kata dokter. Apakah 'kentut' itu kelihatan? Jawabannya TIDAK. Namun kita bisa tau adanya 'kentut' dari baunya. Begitulah ASAP ROKOK, tidak kelihatan namun ada! 


2. ALERGI PROTEIN SUSU/SUSU SAPI

Penyebab kedua adalah alergi susu. Biasanya untuk bayi yg menyusui dengan ASI, dicoba deh agar mommy jangan minum susu-susu untuk ibu menyusui dan kurangi makanan tinggi protein seperti kacang-kacangan. Bisa jadi bayi kita memang alergi terhadap protein tinggi.
untuk bayi yang menggunakan sufor, bisa ganti sufor baby-nya dengan susu yang ada tulisan HA (Hipoalergenik). Susu ini protein sapinya sudah terhidrolisasi sebagian, sehingga tidak terlalu tinggi.


3. POSISI PEMBERIAN SUSU

Penyebab ketiga adalah POSISI PEMBERIAN SUSU yang tidak benar. Saya sendiri melakukan kesalahan ini. Saya dulu menyusui bayi saya pada posisi dia tertidur terlentang dan saya juga tidur. And it was a BIG MISTAKE! Please mommy, jangan menyusui atau memberikan susu ke bayi pada posisi dia terlentang, karena air/susu adalah benda cair yang sifatnya selalu mencari tempat terendah untuk jatuh. Dan jika saat bayi tidur terlentang, maka posisi paling rendah pada tubuh bayi saat itu adalah telinga kemudian tenggorokan. Apalagi jika setelah disusui bayi tidak disendawakan/diberdirikan (kepala bayi menghadap pundak kita) ditepuk-tepuk kecil dari atas pantat sampai punggung, sisa susu akan tertahan entah ditelinga atau di tenggorokan. BAHAYA MOM!
For mommy, please mean it when you are feeding your baby, WAKE UP and don't lazy to at least get up from your bed! Posisikan bayi setidaknya 45 derajat kemiringannya supaya susu benar-benar jatuh ke lambung bayi sehingga bayi kenyang, sehat, dan tidak grok-grok. Ini juga menguntungkan mommy, karena jika bayi kenyang dan sehat, mommy juga senang. 


Dan akhir dari grok-grok yang tidak sembuh secara berkepanjangan adalah ASMA, mom. I couldn't see my baby sick, it makes me die! 

Jangan malas & jangan cepet capek dan nyerah buat baby kita ya mom! Kita aja ga nyerah kok 9 Bulan mengandung dan kemudian melahirkan mereka ke dunia. 


MOM, Kurangi konsumsi obat-obatan untuk bayi kita ya. Bagaimanapun adalah kita orangtua yang harus mengubah kebiasaan yang salah dalam merawat anak kita. Jika anak sakit, tanyakan pada dokter bagaimana seharusnya merawat bayi kita. Bukan bayi kita yang salah sehingga dia harus mengkonsumsi obat-obatan, tapi kita orangtua yang harus tau bagaimana cara yang baik dan benar merawat bayi sehingga meminimalkan bahkan meniadakan obat-obatan bagi bayi kita.

Semangat MOM!!





Saturday, April 9, 2011

Menyusur Goa Losan, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kaltim


Kegiatan menyusur Goa Losan ini agak lama tertunda. Biasanya alasan yang menyertai penundaan susur Losan ini adalah teman-teman GR (Green Rock, nama kelompok penyusur goa kami) ingin menggunakan weekend time mereka untuk melakukan hal yang lebih urgent, sehingga susur goa terpaksa tertunda mengingat kebersamaan lebih berharga dan berkesan, istilahnya “gak ada lo gak rame!”.

Tanggal 19 Maret 2011 jadilah kami bersepuluh serius berangkat untuk susur Goa Losan. Setelah 2 malam sebelumnya diadakan pertemuan membicarakan transportasi dan logistik. Akhirnya kami pun sepakat menggunakan 2 mobil minibus rental dengan fee rental masing2 mobil Rp 300 ribu dan Rp 350 ribu. Beda harga karena beda tempat penyewaan. Sekedar saran, jika memungkinkan memilih mobil ditempat penyewaan mungkin akan lebih baik periksa music player yang terpasang di mobil. Pilih mobil yang memungkinkan kita memasang mp4/flashdisk. Atau kalau memang tidak memungkinkan untuk memilih mobil dengan ketersediaan music player macam itu, berarti sebaiknya kita mulai mempersiapkan cd atau kaset mp3 (dengan lagu2 jaman kini atau yang disukai banyak orang) sehari sebelumnya. Persiapan ini perlu karena selama perjalanan menuju Goa Losan yang ditempuh kurang lebih 45  menit, alunan musik dalam mobil bisa membuat perubahan mood seseorang..hahaha..

Goa Losan sendiri telah menjadi salah satu tujuan objek wisata di Desa Muara Komam. Untuk menyusuri Goa Losan, para penduduk sekitar goa juga menyediakan guide bagi para wisatawan/penyusur yang baru pertama kali atau penyusur yang sudah beberapa kali datang tapi ingin menyusur sudut berbeda dari Goa Losan. Tarif yang dikenakan pada kami saat itu Rp 10 ribu per orang, dan kami beranggotakan 10 orang sehingga seharusnya tarifnya menjadi Rp 100 ribu. Tapi karena keahlian negosiasi salah satu anggota jadilah tarif turun menjadi hanya Rp 90 ribu (cuma turun Rp 10 ribu..haha). Didalam Goa Losan pun disediakan penerangan dan untuk penerangan ini akan dikenakan tambahan biaya sebesar Rp 5 ribu per orang. Kembali sekedar saran, lebih asik kalau gak pakai penerangan itu, akan lebih seru kalau pakai headlamp, lebih menantang gitu! Karena didalam gelap, kita gak tau apa yang akan kita temui sampai kita mendekat ke benda tersebut. Dan jalan-jalan di goa nanti lebih menegangkan karena kita gak tau apa yang akan kita injak…haha..

Didalam Goa Losan tidak dilarang untuk mengambil foto, jadi sebisa mungkin manfaatkan bentuk dan warna bebatuan didalam goa yang unik dan mencengangkan, untuk dijadikan objek dan benda yang bagus diajak foto bersama..haha. Oia, sekedar saran lagi nih, pilihlah warna baju yang camera catching dan kontras dengan warna bebatuan pada umumnya supaya saat diabadikan kamu dan bebatuan dibelakangmu tetap dapat terdefinisi dengan baik. Kalau bisa pakaian yang berwarna cerah, secerah hatimu.. Selain itu semua kamera didalam goa bisa digunakan, asalkan kamera tersebut dipastikan punya blitz karena didalam goa otomatis gelap! Jangan lupa setiap pengambilan gambar dengan kamera, kamu sebagai objek yang ditangkap kamera harus sigap memindahkan arah sinar headlamp menuju wajahmu. Sinar headlamp jangan ditujukan ke arah kamera, nanti malah kuat-kuatan sinar sama blitz kameranya jadinya yang ketangkap sinar-sinar aja deh.

Terakhir, ada baiknya sebelum memasuki goa kita mengetahui cerita-cerita dibalik Goa Losan, tanyakan pada sang guide. Cerita ini bisa dijadikan sebagai alat kehati-hatian melakukan kegiatan didalam goa nanti. Dan yang terpenting adalah lakukan pemanasan sebelum naik ke tangga menuju mulut goa! Anak tangganya banyak dan curam! Jangan abaikan pemanasan, karena kalau kaki terlanjur sakit sebelum sampai mulut goa maka selama susur dan ekspedisi didalam goa jadi gak seru karena kaki sudah sakit duluan. Selain itu, didalam goa permukaan batuan yang kita pijak tidak jarang licin karena lembabnya udara oleh karena itu diperlukan kaki yang fit untuk menyusurinya.

Tidak cukup hanya melihat gambar dan foto-foto untuk dapat menikmati serunya sebuah goa. Bukan hanya goa, bebatuan dan hal-hal didalam goa yang menjadi objek menyenangkan tapi juga penyusurannya, kerjasamanya, dan pengalaman yang didapat untuk diceritakan ke anak-cucu..hahaha.. Selamat mencoba!